Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
MSN Indonesia Bisnis Indonesia Kompas Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Hariyono.org Education Zone Ekonomi Mikro Ekonomi Makro KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Materi Blog Kampus # # #
mandikdasmen Depdiknas Kemdiknas BSNP Kamus Bhs Indonesia # # # # # #
Affiliate Marketing Info Biz # # # # # # # # #
Bisnis Online Affilite Blogs Affiliate Program Affiliate Marketing # # # # # # # # #

Rabu, 02 Desember 2009 | 08.01 | 0 Comments

Seks Aman Saat Hamil

Banyak orang percaya bahwa melakukan hubungan seks di saat hamil dapat berpengaruh buruk pada janin yang dikandung. Katanya, janin bisa rusak dan kehamilan bisa berakhir dengan keguguran. Mereka juga yakin bahwa hubungan seks saat hamil dapat menyebabkan infeksi kandungan. Alhasil, orang takut melakukan hubungan intim di saat istri sedang hamil. Bagaimana halnya menurut Ilmu Kedokteran Modern?

Dinamika Hubungan Seks
Seks dibutuhkan untuk kepuasan hidup. Seks menyebabkan kita merasa dibutuhkan, diinginkan, bahkan digandrungi. Seks juga menumbuhkan rasa aman pada diri kita. Begitu pentingnya seks untuk sebuah imaji diri (self image) yang sehat sehingga sering otak tetap menyuruh kita melakukan atau mencari seks di saat tubuh kita sebenarnya tidak menginginkannya.
Sepanjang hidup berkeluarga, tentu ada saat-saat dimana hubungan seks normal harus terhenti sementara atau mungkin harus disesuaikan dengan keadaan. Misalnya, saat melaksanakan ibadah puasa bagi kaum muslim, saat istri sedang haid, hamil atau sehabis melahirkan. Kedua hal terakhir ini sering menyebabkan hubungan seks terhenti sampai berlama-lama, yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Bagaimana dengan penyakit? Ternyata jarang ada penyakit yang mengharuskan suami istri menghentikan kegiatan seksnya sama sekali, bahkan penyakit jantung sekalipun (kecuali yang sangat berat). Sebab penelitian memperlihatkan bahwa denyut jantung dan tekanan darah yang dicapai pada waktu orgasme, tidak sampai pada tingkat yang membahayakan jiwa.

Seks Saat Hamil
Cukup banyak mitos seputar hubungan seks saat hamil seperti yang dicontohkan di alinea pertama. Dalam kenyataannya, hubungan seks yang wajar tidak pernah terbukti menjadi penyebab terjadinya keguguran. Demikian juga kekhawatiran bahwa seks dapat merusak janin, ternyata tidak beralasan. Janin terlindungi dengan baik di dalam kantung ketuban. Air ketuban yang mengelilingnya berfungsi sebagai peredam getaran. Mulut rahim juga tertutup oleh lendir yang merupakan banteng yang kuat untuk mencegah infeksi kuman. Beberapa wanita yang pernah hamil mungkin bersikeras bahwa gairah seks mereka otomatis hilang di masa hamil terutama kehamilan trimester pertama dan terakhir. Selain disebabkan oleh kekhawatiran yang dilandasi mitos, hal ini mungkin disebabkan oleh rasa mual sewaktu trimester pertama dan rasa cepat lelah di trimester terakhir.
Jangan dilupakan perubahan emosi perempuan saat mengetahui dirinya hamil. Banyak yang baru mulai menyadari betapa besar perubahan hidupnya nanti. Baik di saat hamil dan terutama setelah si kecil lahir. Ia harus menyesuaikan pekerjaannya, gaya hidupnya, keuangan keluarga, menambah pembantu, menata kembali pembagian kamar, menata perabot rumah tangga yang mungkin membahayakan bayi, dan masih banyak lagi. Kekhawatiran-kekhawatiran ini tentu sangat mempengaruhi kejiwaan sang istri. Tak jarang, sebagai akibatnya gairah seksual pun menurun jauh.
Selain itu, banyak perempuan yang tidak bahagia melihat perubahan tubuh saat hamil. Mereka menganggap tubuh yang kian melar itu tampak buruk. Akibatnya tidak sedikit yang merasa enggan memperlihatkan tubuhnya pada sang suami, apalagi melakukan hubungan seks. Padahal, di lain pihak, cukup banyak orang yang berpendapat bahwa perempuan yang sedang hamil jadi tampak lebih seksi. Ada ‘sinar’ tertentu yang memancarkan dari wajah mereka. Hal ini tentunya terjadi pada mereka yang menerima dengan baik kehamilan tersebut.
Penelitian juga memperlihatkan cukup banyak perempuan yang mengatakan hubungan seks saat hamil lebih menyenangkan. Mereka mengaku lebih dapat menikmati, sehingga ingin lebih sering melakukannya. Hal ini dapat diterangkan dari segi biologis. Pada saat hamil, kadar hormon seks yang beredar dalam tubuh perempuan jauh lebih tinggi. Tubuh pun menjadi peka terhadap rangsangan. Demikian pula, reaksi yang timbul saat dirangsang menjadi lebih cepat, lebih spontan,dan lebih bergairah.
Walau demikian, tentu ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah perubahan yang terjadi pada payudara. Selain membesar, organ tubuh yang satu ini juga ikut menjadi lebih sensitive. Suami perlu berhati-hati memperlakukannya agar istri tidak merasa kesakitan. Selain itu, pada bulan-bulan terakhir, mungkin akan terjadi kebocoran air susu awal yang warnanya masih kekuningan (colostrums).
Pada bulan-bulan terakhir pula, janin akan membesar dan memenuhi sebagian besar rongga perut serta panggul. Perut menjadi sangat buncit dengan pusar yang mungkin akan menonjol. Kulit perut pun akan tampak kencang dan mengkilat. Pada waktu ini, mungkin pasangan harus mengubah teknik dan posisi hubungan seksnya. Kenyamanan istri harus diperhatikan untuk menghindari rasa nyeri. Di samping itu, banyak perempuan yang sering merasa cepat lelah dan ingin banyak tidur.
Banyak buku yang dapat lebih menjelaskan posisi hubungan seks yang baik dilakukan pada saat istri hamil tua. Disini hanya akan disebutkan beberapa contoh posisi yaitu cara menyamping, duduk, ataupun posisi tumpuan sendok. Kesemua posisi ini untuk mengurangi tekanan tubuh suami pada perut istri. Pasangan perlu mencoba-coba sendiri posisi mana yang ideal bagi mereka. Patut diperhatikan bahwa hubungan seks yang terlampau kasar akan menyebabkan lecet-lecet dalam nyeri. Dalam keadaan kebersihan diri kurang terjaga mungkin saja terjadi infeksi setempat.

Kapan Hubungan Seks Harus Dihentikan
Ada beberapa keadaan waktu hamil dimana kegiatan seks harus dihentikan. Setidaknya untk sementara sampai mendapat lampu hijau dari dokter kandungan yang memeriksa keadaan tersebut. Yang pertama ialah bila istri pernah keguguran sebelumnya. Mintalah nasehat dokter. Mungkin dokter akan menganjurkan Anda untuk menghentikan kegiatan seks sampai kehamilan berumur sedikit lebih tua (biasanya sampai trimester kedua). Keadaan lain adalah pendarahan. Segera periksa ke dokter kebidanan. Mungkin saja itu bukan sesuatu yang serius tapi bisa pula awal keguguran atau plasenta previa (kedudukan ari-ari di mulut rahim) yang lebih berbahaya. Kegiatan seks juga harus dihentikan bila sudah ada tanda-tanda melahirkan yaitu keluar darah lendir atau ketuban telah pecah.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pada kehamilan normal, sungguh tidak ada alasan bagi pasangan suami-istri untuk menghentikan kegiatan seks. mereka dapat terus melakukan dan menikmatinya, sejak awal kehamilan sampai saat untuk melahirkan tiba.

Gaya bercinta saat Kehamilan

Melakukan hubungan seksual di kala sang istri sedang hamil, tentu ada hal-hal yang perlu diperhatikan, untuk menjamin keselamatan kehamilannya itu sendiri. Bagi istri Anda, hubungan seksual selama hamil bukan hanya sebuah aktivitas yang mengasyikkan, tapi juga bermanfaat sebagai persiapan bagi otot-otot panggulnya untuk menghadapi proses persalinan kelak. Karena itu, berhubungan seksual selama kehamilan tak perlu dihapus. Tentu saja jangan melakukan gaya-gaya yang aneh-aneh apalagi yang ekstrim, hanya dengan alasan sekadar menambah variasi.

Memang pada masa kehamilan trimester pertama, Anda berdua masih punya banyak pilihan posisi bercinta. Namun, setelah beberapa bulan kemudian pilihan posisi itu semakin terbatas. Berikut panduan gaya bercinta yang bisa Anda dan pasangan lakukan.

1. Posisi Misionaris

Perempuan di bawah dan pria di atas. Jika dilakukan saat istri tengan hamil tentu menjadi tidak nikmat, bahkan bisa menyakitkan bagi istri Anda, bahkan juga untuk Anda sendiri. Itu sebabnya, posisi berhubungan seksual yang bisa dilakukan selama istri hamil adalah variasi dengan posisi menyamping, perut istri Anda terbebas dari tindihan.

2. Perempuan di Atas, Pria di Bawah

Dengan posisi ini, Anda (terutama istri Anda), bisa mencegah penekanan terlalu banyak pada bagian perut dan payudara istri Anda, yang memang membahayakan kehamilannya. Posisi ini memungkinkan perempuan untuk memegang lebih banyak kendali atas gerakan. Istri dapat membuatnya lambat atau capat, sambil mengontrol kedalaman penetrasi.

3. Posisi Sendok

Posisi ini dilakukan dengan tubuh berbaring menyamping. Anda berada di belakang istri Anda, sehingga penetrasi dapat dilakukan dari belakang (tetapi bukan hubungan seksual anal. Hanya penetrasinya lewat arah belakang). Posisi ini juga sesuai dilakukan pada saat perut istri sudah besar, atau sat istri tidak dapat berperan aktif lagi selama bercinta (seperti pada posisi perempuan di atas).

4. Posisi Sendok Berhadapan

Posisi menyamping berhadapan dengan pasangan. Tarik satu kaki untuk memberi ruang pada pasangan untuk melakukan penetrasi. Posisi ini lebih cocok dilakukan pada triwulan pertama, ketika perut istri belum terlalu besar.

5. Posisi Duduk

Perempuan duduk di pangkuan pasangan, ketika hamil belum terlalu besar, posisi berhadapan dapat dilakukan. Tapi ketika perut semakin membesar, posisi tidak berhadapan dapat dipilih. Posisi ini dapat menjadi pilihan pada masa kehamilan akhir trimester ke-2 atau pada awal trimester ke-3. Posisi ini cukup nyaman, baik untuk istri maupun Anda sendiri, sekalipun tidak memberikan kesempatan bagi Anda berdua untuk banyak melakukan gerakan aktif saat pemanasan (foreplay). Sayangnya, posisi duduk ini hanya nyaman dilakukan bagi berat tubuh istri tergolong normal. Sebab, pada posisi ini Anda harus menopang berat tubuh istri pada pangkuan Anda.

6. Doggie Style

Agar perut tidak mendapat tekanan, istri bisa bersangga pada lutut dan tangannya, sepeerti hendak merangkak. Hanya saja, jika perut istri sudah sangat besar, bisa saja perut tetap menyentuh alas. Posisi ini juga tidak bisa dilakukan dalam tempo lama, karena cukup melatihkan bagi istri, walau ia tidak melakukan gerakan aktif. Keuntungannya, pembuluh darah di punggung tidak tertekan oleh berat perut.

7. Seks Non-Penetratif

Di luar alternatif-alternatif posisi tersebut, Anda bisa juga melakukan seks non-penetratif. Artinya, alat kelamin suami tidak perlu memasuki vagina istri. Suami istri bisa saling memberikan seks oral atau masturbasi.

Apa pun posisi yang Anda berdua pilih, nikmatilah aktivitas seksual itu bersama-sama dengan tetap memperhatikan kondisi kehamilan istri Anda. Asalkan kehamilan istri Anda dinyatakan tidak memiliki risiko apapun, Anda berdua bisa melakukan hubungan seksual kapan pun Anda berdua menginginkannya, bahkan sampai menjelang persalinan sekalipun. Dengan tetap menikmati aktivitas yang satu ini bersama suami, Anda berdua bisa sling berbagi rasa takut maupun kekhawatiran, serta stres yang mungkin muncul selama masa kehamilan.

Namun jika kehamilan istri Anda berisiko, seperti misalnya letak plasenta tidak pada posisi yang seharusnya (plasenta previa), maka lebih baik berkonsultasi dulu dengan dokter spesialis kandungan jika Anda berdua tetap ingin bisa berhubungan seksual. Begitu juga apabila istri mengalami perdarahan ringan, seperti keluarnya flek-flek pada kehamilan trimester pertama, tunda dulu keinginan itu. (DB, Mutiara Dwi R/Mom & Kiddie/via)

Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2010 - All right reserved by Bidan Pendidik STIKES Karya Husada Pare | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.